Manyala.co – Presiden Prabowo Subianto menghadiri Indonesia–US Business Summit di Washington, Rabu (18/2/2026), dan menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman senilai 38,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp650,4 triliun di sektor pangan, industri, energi, dan teknologi.
Acara berlangsung dalam sesi Gala Iftar atau buka puasa bersama yang menjadi puncak rangkaian pertemuan bisnis bilateral Indonesia dan Amerika Serikat. Forum digelar di kantor U.S. Chamber of Commerce, Washington D.C., dan merupakan kolaborasi antara Pemerintah Indonesia, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, serta mitra Amerika Serikat, yakni U.S. Chamber of Commerce (USCC), U.S. ASEAN Business Council (USABC), dan U.S. Indonesia Society (USINDO).
Total nilai kerja sama yang diteken mencapai 38,4 miliar dolar AS. Berdasarkan kurs yang digunakan dalam pertemuan tersebut, angka itu setara sekitar Rp650,4 triliun. Kesepakatan ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, memperkuat rantai pasok, serta memperluas akses pasar di sektor strategis.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi Exclusive Business Roundtable yang mempertemukan pejabat pemerintah dan pelaku usaha kedua negara. Forum ini membahas penguatan kerja sama ekonomi bilateral, termasuk rencana implementasi hasil negosiasi perjanjian perdagangan resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah nota kesepahaman ditandatangani oleh perusahaan dan asosiasi bisnis dari kedua negara. Di sektor mineral kritis, Freeport McMoRan menandatangani MoU dengan Kementerian Investasi/CEO Danantara. Di sektor energi, Pertamina dan Halliburton menyepakati kerja sama pemulihan ladang minyak (oilfield recovery).
Di sektor komoditas pertanian, Sorini Agro Asia dan Cargill meneken kerja sama komoditas jagung. Dua perusahaan tekstil, Busana Apparel Group dan Daehan Global, masing-masing menandatangani MoU komoditas kapas dengan US National Cotton Council. Kerja sama pakaian daur ulang disepakati antara Pan Brothers dan Ravel.
Sektor industri manufaktur juga tercakup melalui MoU furnitur antara ASMINDO dan Bingaman and Son Lumber, serta antara HIMKI dan American Hardwood Export Council. Di bidang teknologi, Galang Bumi Industri meneken dua MoU semikonduktor dengan Essence dan Tynergy Technology Group, serta menandatangani Pakta Persahabatan Kawasan Perdagangan Bebas Transnasional dengan Solanna Group LLC.
Pemerintah Indonesia menargetkan kerja sama ini dapat memperluas investasi dan mempercepat transfer teknologi. Fokus pada mineral kritis dan semikonduktor mencerminkan upaya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, terutama di tengah meningkatnya persaingan dan restrukturisasi industri teknologi dunia.
Pertemuan ini juga menjadi bagian dari diplomasi ekonomi Indonesia untuk menarik investasi asing langsung dan memperluas pasar ekspor. Amerika Serikat merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia, dengan nilai perdagangan bilateral yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Hingga Rabu malam waktu setempat, belum ada rincian lebih lanjut mengenai jadwal implementasi masing-masing proyek maupun mekanisme pembiayaannya. Namun, pemerintah menyatakan kesepakatan tersebut diharapkan dapat segera ditindaklanjuti melalui perjanjian teknis dan realisasi investasi di lapangan.
































