Manyala.co – Nilai tukar rupiah ditutup menguat 6 poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.888 per dolar AS pada perdagangan Jumat di Jakarta, didorong sentimen positif dari penandatanganan perjanjian perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Pada penutupan sebelumnya, rupiah berada di level Rp16.894 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia juga menguat ke Rp16.885 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.925 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi komitmen kerja sama ekonomi kedua negara. “Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat resmi menyepakati dokumen perjanjian perdagangan resiprokal bertajuk Implementation of the Agreement toward New Golden Age US-Indonesia Alliance, Jumat ini. Perjanjian tersebut diteken langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Perjanjian yang ditandatangani di Washington DC itu memuat 11 nota kesepahaman (MoU), pembentukan dewan ekonomi permanen, penurunan tarif ribuan pos produk, serta komitmen pembelian energi dan pesawat. Kesepakatan tersebut menandai babak baru hubungan ekonomi Indonesia–AS yang selama ini ditopang perdagangan, investasi, dan kerja sama strategis Indo-Pasifik.
“Prabowo dan Trump menginstruksikan jajaran menteri untuk segera menurunkan kesepakatan tersebut ke dalam kebijakan teknis dan regulasi pendukung agar implementasinya berdampak nyata terhadap perekonomian,” kata Ibrahim.
Selain sentimen domestik, pergerakan rupiah juga dipengaruhi dinamika global. Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Januari menunjukkan sikap hati-hati namun cenderung hawkish, memperkuat ekspektasi bahwa pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat tidak mungkin terjadi.
Data ekonomi AS terbaru juga menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif solid. Klaim pengangguran awal turun menjadi 206.000 untuk pekan yang berakhir 14 Februari, lebih rendah dari perkiraan 225.000 dan turun dari 229.000 pada periode sebelumnya. Survei Manufaktur Federal Reserve Philadelphia naik menjadi 16,3 pada Februari, melampaui ekspektasi 8,5 dan meningkat dari 12,6 pada Januari.
“Fokus pasar hari ini adalah pembacaan awal Produk Domestik Bruto (PDB) AS untuk kuartal keempat, Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), dan data Indeks Manajer Pembelian Global S&P (PMI), yang akan dirilis malam nanti,” ujar Ibrahim.
Penguatan rupiah terjadi di tengah volatilitas mata uang regional yang sensitif terhadap arah kebijakan moneter AS dan perkembangan geopolitik. Mata uang negara berkembang umumnya tertekan ketika prospek suku bunga AS tetap tinggi dalam waktu lebih lama.
Perjanjian perdagangan RI–AS dinilai pelaku pasar sebagai sinyal positif terhadap arus investasi dan perdagangan bilateral. Namun, hingga Jumat sore belum ada rincian resmi mengenai nilai transaksi atau target peningkatan volume perdagangan dari pemerintah kedua negara.
Pelaku pasar masih mencermati implementasi teknis dari kesepakatan tersebut serta dampaknya terhadap neraca perdagangan dan arus modal Indonesia dalam jangka menengah.
































