Manyala.co – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa “banyak negara” akan bergabung dalam pengiriman kapal perang ke Selat Hormuz guna memastikan jalur pelayaran tersebut tetap terbuka dan aman.
Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan di platform Truth Social pada Sabtu. Namun, Trump tidak merinci negara mana saja yang akan terlibat dalam operasi tersebut.
“Banyak negara, terutama yang terdampak oleh upaya Iran menutup Selat Hormuz, akan mengirim Kapal Perang, bersama dengan AS, untuk menjaga Selat itu tetap terbuka dan aman,” tulis Trump.
Ia juga menyampaikan peringatan keras terhadap Iran, dengan menyatakan bahwa Amerika Serikat siap mengambil tindakan militer untuk menjaga akses ke jalur tersebut.
“AS akan mengebom habis-habisan garis pantai, serta terus menembaki Perahu dan Kapal Iran dari perairan tersebut. Bagaimanapun caranya, kami akan segera membuat Selat Hormuz TERBUKA, AMAN, dan BEBAS!” tulisnya.
Sebelumnya, pada Jumat, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Angkatan Laut AS akan segera mulai mengawal kapal tanker yang melintasi perairan strategis tersebut. “Itu akan segera dilakukan,” ujarnya.
Ketegangan meningkat setelah pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyerukan agar penutupan Selat Hormuz terus dilanjutkan. Jalur ini merupakan salah satu rute energi paling penting di dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak global melewati kawasan tersebut.
Khamenei juga menyatakan Iran akan membuka front baru dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Sementara itu, perwakilan tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani, menyalahkan kebijakan Washington atas memburuknya situasi keamanan di kawasan.
“Situasi saat ini di kawasan, termasuk di Selat Hormuz, merupakan … konsekuensi langsung dari tindakan destabilisasi AS yang melancarkan agresi terhadap Iran dan merusak keamanan kawasan,” kata Iravani.
Selat Hormuz yang terletak di antara Teluk Persia dan Teluk Oman merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia dan berdampak luas pada ekonomi global.
Pernyataan Trump mencerminkan peningkatan risiko konfrontasi militer langsung di kawasan tersebut, di tengah eskalasi konflik antara pihak-pihak terkait.
Hingga saat ini, belum ada rincian resmi mengenai negara-negara yang akan berpartisipasi dalam operasi pengamanan tersebut maupun waktu pelaksanaannya.
































