Manyala.co – Menjelang pergantian tahun 2025 ke 2026, umat Islam di Indonesia dan sejumlah negara memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan refleksi diri melalui pembacaan doa akhir tahun dan doa awal tahun sebagaimana dirujuk dalam tradisi keagamaan.
Pergantian tahun, yang akan berlangsung dalam hitungan jam, kerap dimaknai sebagai momentum evaluasi perjalanan hidup dan penyusunan harapan baru. Dalam perspektif Islam, perubahan waktu dipahami sebagai pengingat untuk meningkatkan kualitas akhlak, memperbaiki amal perbuatan, serta memperkuat kedekatan spiritual kepada Allah SWT.
Rujukan doa akhir tahun dan awal tahun yang banyak digunakan masyarakat bersumber dari tradisi keilmuan Islam Nusantara. Mengutip laman resmi Nahdlatul Ulama (NU Online), doa tersebut dibaca sebagai bentuk introspeksi dan permohonan ampun atas perbuatan selama setahun terakhir, sekaligus permohonan bimbingan di tahun yang akan datang.
Doa akhir tahun dibaca sebelum pergantian waktu, biasanya menjelang masuknya tahun baru. Bacaan ini menitikberatkan pada pengakuan kesalahan, permohonan ampun, serta harapan agar amal kebaikan yang dilakukan diterima oleh Allah SWT. Doa tersebut juga memuat pengharapan agar manusia tidak terputus dari rahmat dan kasih sayang Tuhan.
Secara substansi, doa akhir tahun berisi permohonan ampun atas perbuatan yang dilarang namun belum sempat ditaubati, serta pengakuan atas kelalaian yang terjadi meski manusia telah diperingatkan. Selain itu, terdapat permohonan agar amal yang diridhai dan dijanjikan pahala dapat diterima, seraya memohon agar harapan kepada Allah SWT tidak terputus.
Setelah memasuki tahun baru, umat Islam dianjurkan melanjutkan dengan membaca doa awal tahun. Doa ini dipahami sebagai bentuk permohonan perlindungan dan bimbingan dalam menjalani fase waktu yang baru. Dalam doa tersebut, Allah SWT dipuji sebagai Zat Yang Maha Abadi, Maha Awal, dan sumber segala harapan.
Doa awal tahun memuat permohonan perlindungan dari godaan setan dan pengaruh buruk, serta permintaan pertolongan dalam mengendalikan hawa nafsu yang dapat mendorong perbuatan tercela. Selain itu, terdapat permohonan agar setiap aktivitas keseharian diarahkan pada hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tradisi pembacaan doa akhir dan awal tahun ini tidak bersifat wajib dan tidak ditetapkan sebagai ibadah khusus dengan ketentuan waktu tertentu. Para ulama menegaskan bahwa esensi dari amalan tersebut terletak pada nilai muhasabah atau evaluasi diri, yang sejatinya dapat dilakukan kapan pun, tidak terbatas pada momentum pergantian kalender.
Di tengah dinamika sosial, ekonomi, dan global yang terus berkembang, praktik refleksi keagamaan semacam ini dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan spiritual masyarakat. Hingga Senin malam, tidak terdapat ketentuan resmi negara atau otoritas keagamaan yang mewajibkan pembacaan doa ini, namun praktiknya tetap dijalankan secara luas oleh masyarakat Muslim di berbagai daerah.































