Penulis: Markus L. Sabarofek
(Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua Barat dan Mahasiswa Program Doktoral Administrasi Publik Universitas Negeri Makassar)
Manyala – Teknologi sedang berlari….Tetapi, apakah kewirausahaan kita ikut bergerak?
Kewirausahaan selalu lahir dari keberanian membaca perubahan yang ketika kebutuhan manusia berubah, maka cara berusaha pun juga ikut berubah. Apa yang dahulu dianggap cukup, hari ini bisa jadi tidak lagi mampu menjawab kebutuhan pasar karena itu, bagi UMKM, perubahan tidak hanya sekadar berbicara ataupun memahami persoalan mengikuti zaman tetapi tentang bagaimana menemukan cara baru untuk tetap relevan dan menciptakan nilai yang lebih berdampak.
Perubahan itu kini terasa dalam dunia UMKM, dimana toko fisik mulai bergeser ke marketplace, spanduk berganti media sosial, transaksi tunai mulai beralih ke QRIS dan AI hadir untuk membantu membaca pasar, membuat konten hingga mengambil keputusan bisnis.
Penentu masa depan UMKM bukan seberapa banyak teknologi yang digunakan tetapi seberapa jauh teknologi tersebut mampu mengubah cara mereka berwirausaha. Persoalannya sekarang bukan lagi sekadar apakah UMKM sudah masuk ke ruang digital tetapi apakah mereka mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing.
Ketika kita mencermati kondisi empirisnya tantangan tersebut justru masih besar yang walaupun Pemerintah bahkan menilai transformasi digital UMKM telah memasuki tahap baru, namun persoalannya bukan lagi bagaimana membuat UMKM go online tetapi bagaimana membuat mereka go productive dan go competitive.
Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat kesenjangan kemampuan tersebut menjadi semakin penting, yang hal ini dapat kita telusuri pada bulan Juli 2026 Menteri UMKM menyebut lebih dari 90 persen pelaku UMKM Indonesia belum memanfaatkan AI secara optimal dalam proses bisnisnya, (dilansir antaranews.com).
Artinya ada persoalan yang lebih dalam daripada sekadar akses teknologi. Teknologinya sudah tersedia tetapi kemampuan untuk mengubah teknologi menjadi nilai ekonomi belum merata. Sebagian UMKM juga mungkin sudah menggunakan media sosial dan berbagai platform digital tetapi belum mampu memanfaatkan data untuk memahami pelanggan. Sebagian mulai mengenal AI tetapi penggunaannya masih terbatas untuk membuat konten, yang padahal AI justru dapat digunakan lebih jauh untuk membaca tren pasar, menemukan peluang, mengembangkan produk, memperbaiki pelayanan dan membantu mengambil keputusan bisnis.
Di sisi lain persaingan justru semakin keras. INDEF mencatat jumlah usaha yang masuk ke e-commerce telah mencapai lebih dari 4,4 juta unit, tetapi pertumbuhan nilai transaksi justru melambat. Konsentrasi marketplace, biaya platform, logistik dan pemasaran digital semakin menekan margin. UMKM juga menghadapi persaingan dari produk impor yang masuk melalui platform digital.
Di sinilah paradoks kewirausahaan UMKM di era AI mulai terlihat yang dengan teknologi semakin mudah dijangkau, tetapi apakah kemampuan pelaku UMKM untuk memanfaatkannya ikut berkembang? Apakah AI benar-benar digunakan untuk memahami pelanggan atau hanya untuk membuat konten lebih cepat? Apakah data yang terkumpul sudah digunakan untuk membaca peluang pasar atau hanya berhenti menjadi angka transaksi? Apakah teknologi sudah membantu UMKM menciptakan produk yang lebih baik atau justru membuat banyak usaha menghasilkan promosi yang hampir sama? dan yang paling penting, apakah UMKM kita sedang menggunakan teknologi untuk menciptakan keunggulan atau hanya ikut menggunakan teknologi karena takut tertinggal?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan UMKM bukan lagi sekadar akses terhadap teknologi, tetapi kemampuan untuk mengubah teknologi menjadi nilai dan keunggulan usaha. Karena itu, solusi yang dibutuhkan tidak cukup dengan mendorong UMKM agar semakin banyak menggunakan aplikasi digital atau AI. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan mereka untuk memahami data, membaca perubahan pasar, mengembangkan produk, mengenali kebutuhan pelanggan dan berani mengubah cara kerja ketika kondisi berubah.
Di sinilah model kewirausahaan UMKM perlu bergeser dari sekadar “Go Digital” menuju “Go Intelligent”. AI tidak seharusnya ditempatkan hanya sebagai alat untuk mempercepat pekerjaan tetapi sebagai bagian dari proses berpikir dan pengambilan keputusan bisnis. Pelaku UMKM perlu belajar menggunakan teknologi untuk menemukan peluang, menguji gagasan, memahami perilaku konsumen, mengurangi pemborosan dan menciptakan produk serta layanan yang lebih relevan sehingga dengan demikian, teknologi tidak berhenti sebagai alat bantu tetapi menjadi bagian dari kemampuan UMKM untuk terus belajar dan beradaptasi.
Pandangan ini sejalan dengan Schumpeter (1934) yang menempatkan inovasi sebagai kemampuan menciptakan kombinasi baru dalam kegiatan ekonomi. Artinya, menjadi digital belum tentu berarti inovatif. Inovasi terjadi ketika teknologi melahirkan cara baru dalam menciptakan nilai. Selain itu kita dapat melihat juga dari gagasan Drucker (1985) yang telah menegaskan inovasi perlu dikelola secara sistematis dengan melihat perubahan sebagai sumber peluang, jadi dari perspektif inilah kemudian seharusnya AI akan sangat membantu UMKM yang tidak hanya sekadar mengikuti tren tetapi menemukan peluang yang sebelumnya tidak terlihat.
Lebih jauh, kemampuan tersebut sejalan dengan konsep Dynamic Capabilities dari Teece, Pisano, dan Shuen (1997) yang menangkankan juga UMKM perlu memiliki kemampuan untuk membaca perubahan (sensing), menangkap peluang (seizing), dan menata kembali sumber daya serta proses bisnis (reconfiguring), maka tentunya ketika berbicara dalam praktiknya maka sesungguhnya AI dapat digunakan untuk membaca tren pasar, menguji ide produk, memperkirakan kebutuhan stok, memahami pelanggan dan memperbaiki layanan. Pada titik inilah AI tidak lagi sekadar menjadi alat digital, tetapi menjadi instrumen inovasi dan penguat daya saing UMKM.
Namun, transformasi tersebut tentu tidak mudah. INDEF (2026) menunjukkan bahwa adopsi digital usaha mikro masih dipengaruhi oleh infrastruktur, keterjangkauan internet, literasi dan keterampilan digital, akses keuangan serta kondisi sosial-ekonomi. Artinya, tidak cukup jika UMKM hanya diminta untuk beradaptasi dengan teknologi. Mereka juga membutuhkan ekosistem yang memungkinkan teknologi benar-benar menghasilkan manfaat. Infrastruktur harus tersedia, pembiayaan harus lebih mudah diakses, pendampingan harus diperkuat, literasi digital harus ditingkatkan dan akses pasar harus semakin terbuka.
Karena itu, agenda pengembangan UMKM perlu bergerak dari “Go Digital” menuju “Go Intelligent”. Go Digital membuat UMKM terhubung dengan teknologi. Sementara Go Intelligent mendorong UMKM menggunakan teknologi, data, kreativitas dan AI untuk belajar, beradaptasi, mengambil keputusan dan menciptakan nilai baru. Pergeseran inilah yang penting agar digitalisasi tidak berhenti sebagai perubahan alat tetapi menjadi perubahan dalam cara berpikir dan cara berwirausaha.
Perdebatan tentang AI bukan hanya tentang apakah manusia akan digantikan oleh mesin. Pertanyaan yang jauh lebih penting ialah apakah manusia mampu menggunakan mesin untuk menciptakan sesuatu yang lebih bernilai ataukah teknologi boleh semakin cerdas tetapi kewirausahaan harus tetap memiliki arah dan nilai kemanusiaan.
Sebab masa depan bukan milik mereka yang paling cepat mengadopsi teknologi tetapi mereka yang paling bijak menentukan untuk apa teknologi digunakan. Teknologi boleh mengubah cara kita berusaha tetapi jangan sampai mengubah alasan mengapa kita berusaha yaitu menciptakan nilai, membangun kehidupan dan memberi manfaat bagi sesama.
Salam Literasi.

































