Manyala.co – Investigasi Al Jazeera menemukan bahwa kampanye media sosial bertagar #FreeThePersianPeople, yang muncul di tengah gelombang protes di Iran, didorong oleh jaringan eksternal pro-Israel dan tidak berkembang secara organik dari dalam negeri.
Berdasarkan analisis data digital yang dipublikasikan Al Jazeera pada Jumat (16/1/2026), kampanye tersebut menunjukkan pola penyebaran yang tidak lazim dan mengindikasikan adanya operasi pengaruh terkoordinasi. Penelusuran terhadap ribuan unggahan memperlihatkan bahwa sebagian besar interaksi berasal dari akun di luar Iran, terutama yang terhubung dengan Israel atau kelompok pendukungnya.
Dari sekitar 4.370 unggahan yang dianalisis, sekitar 94 persen merupakan retweet, sementara konten orisinal dihasilkan oleh kurang dari 170 akun. Meski jumlah sumber sangat terbatas, kampanye tersebut tercatat menjangkau lebih dari 18 juta akun. Menurut Al Jazeera, kesenjangan ekstrem antara volume konten asli dan jangkauan distribusi merupakan karakteristik operasi “astroturfing”, yakni upaya menciptakan kesan dukungan publik luas melalui amplifikasi buatan.
Analisis isi menunjukkan bahwa kampanye tersebut tidak hanya menyoroti keluhan sosial atau ekonomi di Iran, tetapi secara konsisten membangun narasi politik tertentu. Unggahan menggambarkan situasi Iran sebagai “momen keruntuhan” dengan dikotomi tajam seperti “rakyat versus rezim” dan “kebebasan versus Islam politik”.
Kampanye ini juga secara sistematis mempromosikan Reza Pahlavi, putra syah terakhir Iran, sebagai alternatif politik. Menurut laporan Al Jazeera, Pahlavi terlibat langsung dalam kampanye digital tersebut, yang kemudian diperkuat oleh sejumlah media Israel. Namun, laporan itu mencatat bahwa sebagian masyarakat Iran masih memandang kritis figur tersebut karena sejarah pemerintahan monarki dan peristiwa kudeta 1953 yang melibatkan Amerika Serikat dan Inggris.
Keterlibatan aktor resmi Israel turut tercatat dalam puncak penyebaran tagar. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengunggah pesan berbahasa Persia yang menyerukan “jatuhnya diktator” Iran. Unggahan mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett juga tersebar luas setelah dimodifikasi agar selaras dengan narasi kampanye.
Investigasi tersebut menyebutkan bahwa sebagian konten berupaya membingkai protes sebagai konflik ideologis melawan agama, bukan semata kritik terhadap kebijakan ekonomi atau politik pemerintah. Narasi yang membedakan “rakyat Persia” dari Islam juga dinilai sebagai upaya memisahkan masyarakat Iran dari struktur negara.
Wacana kampanye kemudian berkembang menjadi seruan terbuka untuk intervensi asing. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya terlibat dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran dalam konflik Israel-Iran pada Juni lalu, turut disebarkan dalam jaringan kampanye. Sejumlah anggota Kongres AS dan akun-akun yang menargetkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga teridentifikasi menyerukan tindakan militer.
Al Jazeera mengidentifikasi beberapa akun pusat yang berperan sebagai penguat utama jaringan, termasuk akun “Rhythm of X”, “Nioh Berg”, dan “Israel War Room”. Akun-akun tersebut menunjukkan keterkaitan erat dalam pola interaksi dan konsistensi narasi.
Investigasi menyimpulkan bahwa kampanye #FreeThePersianPeople bukan merupakan ekspresi spontan dari dalam Iran, melainkan operasi informasi yang dibangun di luar negeri dan diarahkan untuk membingkai ulang keresahan domestik ke dalam agenda geopolitik yang lebih luas. Hingga laporan dipublikasikan, tidak ada konfirmasi resmi dari pihak Israel atau platform X terkait temuan tersebut.
































