Manyala.co – Sedikitnya 192 demonstran dilaporkan tewas dalam gelombang unjuk rasa besar di Iran sejak Desember lalu, dengan dugaan terjadinya pembunuhan massal oleh aparat keamanan, menurut laporan lembaga pemantau hak asasi manusia.
Laporan tersebut disampaikan Iran Human Rights (IHR) pada Minggu (12/1/2026). Organisasi berbasis di luar Iran itu menyatakan angka korban jiwa dihimpun dari jaringan sumber mereka di dalam negeri, namun diyakini masih belum mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Dalam pernyataannya, IHR menyebut laporan yang belum diverifikasi mengindikasikan jumlah korban bisa jauh lebih besar. “Laporan yang belum diverifikasi menunjukkan bahwa setidaknya beberapa ratus, dan menurut beberapa sumber, lebih dari 2.000 orang mungkin telah tewas,” kata IHR, seperti dikutip kantor berita AFP.
IHR mengecam keras dugaan tindakan aparat keamanan terhadap demonstran. “Kami mengecam pembunuhan massal dan kejahatan internasional besar terhadap rakyat Iran,” lanjut pernyataan tersebut.
Unjuk rasa terbaru kembali pecah di Teheran pada Sabtu (10/1). Para demonstran dilaporkan menembakkan kembang api dan meneriakkan slogan dukungan terhadap rezim Pahlavi di Lapangan Punak, Teheran. Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian protes yang terus berlanjut dan meluas.
Sejumlah rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan situasi kerusuhan di berbagai wilayah ibu kota. Dalam salah satu cuplikan yang dirilis pada Jumat (9/1/2026), tampak kendaraan terbakar di tengah kerumunan massa. Rekaman tersebut diperoleh dari media sosial dan dipublikasikan oleh Reuters.
IHR juga merujuk pada sebuah video yang direkam di sebuah kamar mayat di wilayah selatan Teheran. Video tersebut memperlihatkan tumpukan jenazah yang diduga merupakan korban demonstrasi. Kantor berita AFP menyatakan telah memverifikasi keaslian video tersebut.
Dalam rekaman itu, terlihat sejumlah mayat dibungkus kantong jenazah berwarna hitam, dengan anggota keluarga korban berada di sekitarnya. Hingga Minggu malam, belum ada tanggapan resmi dari otoritas Iran terkait temuan video tersebut maupun laporan IHR.
Gelombang protes di Iran dipicu lonjakan biaya hidup yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ekonomi diperburuk oleh melemahnya nilai tukar mata uang rial, yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Aksi protes awalnya muncul di Teheran, sebelum meluas ke berbagai kota lain di Iran. Seiring berjalannya waktu, tuntutan ekonomi berkembang menjadi penentangan terbuka terhadap pemerintahan Republik Islam yang dipimpin Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Sejumlah media internasional melaporkan bahwa demonstrasi kali ini disebut-sebut sebagai yang terbesar sejak Revolusi Islam 1979. Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Situasi keamanan yang memburuk dan pembatasan informasi dari dalam Iran menyulitkan verifikasi jumlah korban secara menyeluruh. Hingga kini, belum ada angka resmi dari pemerintah Iran mengenai jumlah korban tewas dalam rangkaian protes tersebut.
































