Manyala.co – PT Hutama Karya (Persero) mempercepat pembangunan 600 unit hunian sementara di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, dengan sistem kerja 24 jam di atas lahan seluas 5,5 hektare milik PTPN untuk menampung warga terdampak bencana.
Pembangunan hunian sementara atau huntara tersebut dikerjakan oleh Hutama Karya sejak lima hari terakhir setelah menerima perintah pengerjaan. Proyek ini berlokasi di lahan PTPN yang terbagi dalam tiga zona, yakni zona A, B, dan C, dan saat ini telah memasuki tahap awal pembersihan lahan.
Direktur Operasi II Hutama Karya Gunadi mengatakan, tahap awal pekerjaan difokuskan pada clearing area sebelum pembangunan struktur utama dilakukan. Ia menjelaskan bahwa luas lahan mencapai 5,5 hektare dan dirancang untuk menampung ratusan unit huntara dengan sistem terintegrasi.
“Ini hari kelima dari dimulainya perintah pengerjaan. Kami pertama melakukan clearing. Ini lahan milik PTPN seluas 5,5 hektare terdiri dari tiga bagian, yakni zona A, C, dan B di belakang,” ujar Gunadi di lokasi pembangunan, Minggu (28/12/2025).
Gunadi menjelaskan, total huntara yang akan dibangun mencapai 600 unit dengan ukuran masing-masing 4,5 meter x 4,5 meter. Hunian tersebut dirancang menggunakan sistem komunal, di mana fasilitas pendukung seperti kamar mandi, toilet, dan dapur digunakan bersama oleh para penghuni.
“Keseluruhan rencana dibangun 600 unit, satu unit masing-masing ukurannya 4,5×4,5 meter persegi. Sistemnya komunal, sistem bersama di mana fasilitas cuci, mandi, toilet dipisah, termasuk dapur bersama. Ada musala, ada ruang komunal juga itu secara terpisah,” kata Gunadi.
Dalam pelaksanaannya, proyek pembangunan huntara ini melibatkan kolaborasi lintas badan usaha milik negara. Gunadi menyebutkan, dukungan datang dari Danantara serta sejumlah BUMN lain melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan.
“Selain juga kolaborasi dari Danantara, pembiayaannya dari CSR Himbara, kolaborasi tujuh karya. Kemudian, didukung PLN untuk jaringan listrik dan mereka memberikan pulsa listrik gratis selama tiga hingga enam bulan. Telkom hadir juga memberikan wifi gratis,” ujarnya.
Hutama Karya menerapkan sistem kerja 24 jam untuk mempercepat penyelesaian pembangunan. Namun, faktor cuaca, terutama hujan, menjadi kendala utama di lapangan yang dapat menghambat proses pekerjaan.
“Pengerjaan 24 jam, kecuali hujan. Karena hujan ini salah satu kendala, tapi kami lengkapi teman-teman pekerja dengan mantel plastik saat bekerja,” kata Gunadi.
Dari sisi tenaga kerja, sekitar 30 hingga 40 persen pekerja berasal dari masyarakat lokal Aceh Tamiang serta daerah lain di Aceh seperti Pidie dan Langsa. Sementara sisanya merupakan pekerja dari provinsi lain yang sebelumnya telah berpengalaman bekerja bersama Hutama Karya.
Untuk mengantisipasi risiko banjir akibat kontur lahan yang rendah, perusahaan juga membangun kolam penampungan air atau pond. Selain itu, struktur huntara dirancang berbentuk panggung dengan elevasi tambahan.
“Kemudian, karena lokasi rendah, kami bangun pond, tampungan air. Makanya kami bangun strukturnya panggung. Bangunan ini nanti setelah dilakukan timbunan itu perbedaanya 20 sentimeter sehingga dipastikan tidak akan banjir karena air mengalir ke pond,” ujar Gunadi.
Hingga Minggu malam, belum ada informasi resmi mengenai target waktu penyelesaian seluruh unit huntara tersebut.

































