Manyala.co – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan pekan lalu hingga berlanjut pada Senin (19/10/2026). Ancaman perubahan status pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), aksi jual investor asing, pelemahan rupiah, serta kenaikan harga minyak mentah global menjadi sejumlah faktor yang membayangi pergerakan pasar modal domestik.
Pada penutupan perdagangan Jumat (16/10/2026), IHSG merosot 11,57 persen ke level 5.185,10. Sepanjang pekan tersebut, indeks hanya mampu berakhir di zona hijau dalam satu hari perdagangan, sedangkan secara akumulatif terkoreksi 14,91 persen.
Tekanan berlanjut pada awal pekan ini. IHSG dibuka pada level 4.961,88 pada Senin (19/10/2026), kemudian bergerak turun hingga menyentuh titik terendah sesi pertama di 4.907,37.
Pada sesi pertama, IHSG tercatat melemah 261,84 poin atau 5,05 persen ke level 4.923,26. Pergerakan tersebut menandai kembalinya indeks ke kisaran 4.900, level yang terakhir terlihat pada Oktober 2020.
Jika digabungkan dengan koreksi pada perdagangan Senin, IHSG telah kehilangan sekitar 43 persen sepanjang tahun berjalan atau year to date (YtD). Kinerja tersebut menempatkan indeks saham Indonesia dalam tekanan berat dibandingkan indeks-indeks utama dunia.
Asing Jual Bersih Rp3,35 Triliun
Tekanan di pasar saham turut diwarnai aksi jual investor asing. Sepanjang pekan lalu, investor asing mencatatkan penjualan bersih atau net foreign sell sebesar Rp3,35 triliun di seluruh pasar dan Rp3,40 triliun di pasar reguler.
Sementara itu, investor asing membukukan pembelian bersih sebesar Rp51,83 miliar di pasar negosiasi dan tunai.
Mengutip data Indo Premier, sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama aksi jual asing. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan penjualan bersih asing terbesar, yakni sekitar Rp1,9 triliun.
Posisi berikutnya ditempati PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), yang masing-masing mencatatkan penjualan bersih sekitar Rp1,1 triliun.
Berikut 10 saham dengan nilai net foreign sell terbesar sepanjang pekan lalu:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Rp1,9 triliun.
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI): Rp1,1 triliun.
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): Rp1,1 triliun.
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM): Rp204,8 miliar.
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): Rp202,4 miliar.
- PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR): Rp128,7 miliar.
- PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG): Rp110,1 miliar.
- PT Darma Henwa Tbk (DEWA): Rp53,9 miliar.
- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA): Rp39,0 miliar.
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI): Rp34,5 miliar.
Pada perdagangan Senin, saham-saham berkapitalisasi besar kembali menjadi pemberat utama IHSG. Saham BBCA, BBRI, TLKM, BMRI, dan BYAN tercatat berada di antara saham yang menekan pergerakan indeks.
MSCI Jadi Sumber Kekhawatiran Pasar
Salah satu pemicu utama gejolak pasar saham Indonesia adalah pengumuman MSCI yang menyatakan tengah mempertimbangkan perubahan klasifikasi Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market.
Jika perubahan tersebut terealisasi, Indonesia berisiko kehilangan akses terhadap sebagian aliran modal internasional yang mengikuti indeks MSCI. Indonesia juga berpotensi dikelompokkan bersama pasar berstatus standalone lainnya, seperti Lebanon dan Zimbabwe.
Sebelumnya, pada Januari 2026, MSCI telah memperingatkan kemungkinan penurunan status Indonesia menjadi frontier market. Peringatan tersebut berkaitan dengan persoalan transparansi kepemilikan saham dan praktik perdagangan di pasar modal.
Namun, dalam pernyataan terbarunya, MSCI menilai minimnya kemajuan dalam pembenahan persoalan tersebut membuat penurunan ke status frontier market tidak lagi cukup mencerminkan tingkat keseriusan masalah yang dihadapi.
Ahli strategi Goldman Sachs, sebagaimana dikutip Reuters, menilai Indonesia perlu menunjukkan hasil nyata dari reformasi pasar modal yang telah diumumkan.
“Beban pembuktian kini telah bergeser. Untuk menghindari reklasifikasi, dibutuhkan bukti nyata bahwa reformasi yang diumumkan telah dijalankan secara konsisten dan memperbaiki fungsi pasar secara material,” tulis ahli strategi Goldman Sachs dalam risetnya.
Potensi Arus Keluar Dana Rp100 Triliun
Ancaman perubahan klasifikasi tersebut turut memunculkan kekhawatiran mengenai potensi arus keluar modal asing dari pasar saham Indonesia.
Goldman Sachs memperkirakan arus keluar dana pasif dapat mencapai US$5,6 miliar atau sekitar Rp100,8 triliun apabila Indonesia benar-benar dikeluarkan dari indeks MSCI.
Selain itu, dana aktif yang menggunakan indeks tersebut sebagai acuan tercatat memiliki aset lebih dari US$8 miliar atau sekitar Rp144 triliun. Meski demikian, keputusan penjualan oleh pengelola dana aktif tidak secara otomatis mengikuti perubahan indeks.
Sepanjang 2026, investor asing telah mencatatkan penjualan bersih saham Indonesia senilai US$4,88 miliar atau setara Rp87,84 triliun. Angka tersebut berpotensi menjadi arus keluar tahunan terbesar dalam setidaknya 16 tahun terakhir.
Kepala Strategi Makro dan Investasi Asia BNY Investments, Aninda Mitra, menilai eksposur investor asing terhadap saham Indonesia telah menyusut cukup dalam sehingga ruang penurunan lanjutan kemungkinan tidak terlalu besar.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa upaya menarik modal dalam jumlah besar akan semakin sulit di tengah kondisi pasar saat ini, meskipun sejumlah perusahaan dan bank masih memiliki fundamental yang solid.
BEI Pangkas Batas Auto Rejection Bawah
Merespons gejolak pasar, Bursa Efek Indonesia (BEI) memangkas batas auto rejection bawah (ARB) menjadi 7 persen dari sebelumnya 15 persen pada Senin (19/10/2026).
Kebijakan tersebut bertujuan memberikan kesempatan kepada investor untuk mengevaluasi dan mencerna informasi yang tersedia sebelum mengambil keputusan investasi berdasarkan fundamental ekonomi Indonesia.
Langkah itu diambil setelah regulator jasa keuangan menggelar pertemuan dengan pelaku pasar modal, termasuk analis dan ekonom, pada akhir pekan.
Pada Jumat sebelumnya, regulator juga mengumumkan pemberian sanksi terhadap sejumlah pihak yang diduga terlibat dalam manipulasi perdagangan saham tiga perusahaan.
Rupiah Melemah, Harga Minyak Tembus US$100
Tekanan pasar tidak hanya terjadi di bursa saham, tetapi juga merembet ke pasar valuta asing dan instrumen pendapatan tetap.
Pada perdagangan Senin, rupiah tercatat berada di kisaran Rp18.032 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi tersebut mendekati rekor pelemahan rupiah di Rp18.190 per dolar AS yang tercapai pada Juni lalu.
Di sisi lain, harga minyak mentah berjangka Brent mencapai US$107,90 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menembus US$100,15 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi domestik dan neraca perdagangan Indonesia.
Manajer portofolio Allspring Global Investments di Singapura, Gary Tan, menilai risiko yang perlu diwaspadai bukan hanya aksi jual yang berkaitan dengan perubahan indeks, melainkan juga dampaknya terhadap rupiah dan imbal hasil obligasi domestik.
“Dislokasi pasar bisa berujung pada pengetatan kondisi keuangan dan dampak yang lebih berarti terhadap perekonomian riil,” ujarnya.
Tekanan terhadap pasar keuangan tersebut menambah tantangan bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Sebelumnya, Moody’s dan Fitch telah menurunkan prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif pada awal 2026.
Kepala strategi BNY Investments menilai kondisi ini membuat upaya menarik modal asing semakin menantang, meskipun peluang investasi pada perusahaan dan perbankan dengan fundamental kuat masih terbuka.
Transaksi Saham Tembus Rp10,03 Triliun
Pada sesi pertama perdagangan Senin, nilai transaksi saham di Bursa Efek Indonesia mencapai Rp10,03 triliun. Pasar reguler menyumbang Rp9,65 triliun, sedangkan pasar negosiasi dan tunai mencatatkan transaksi sekitar Rp367,50 miliar.
Volume perdagangan mencapai 16,89 miliar lembar saham, termasuk 15,95 miliar lembar di pasar reguler dan sekitar 729 juta lembar di pasar negosiasi.
Sejumlah saham perbankan mengalami tekanan signifikan. BMRI mencatat nilai transaksi tertinggi dengan harga turun 2,65 persen menjadi Rp3.300 per saham.
BBCA melemah 6,86 persen ke Rp4.820, sedangkan BBRI merosot 6,82 persen ke Rp2.460. TLKM turun 6,84 persen menjadi Rp1.770, sementara PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terkoreksi 6,99 persen ke Rp665.
Dari sisi volume, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi saham yang paling banyak diperdagangkan. Harganya turun 4 persen menjadi Rp24 per lembar. DSSA, TLKM, BBRI, dan BMRI menyusul dalam daftar saham dengan volume transaksi terbesar.
Berdasarkan frekuensi transaksi, BBRI menjadi saham yang paling sering diperdagangkan, diikuti BBCA, BMRI, TLKM, dan ANTM. Saham ANTM melemah 6,67 persen menjadi Rp2.380.
Tekanan juga melanda sektor pertambangan. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) turun 6,95 persen menjadi Rp10.375, sedangkan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melemah 6,95 persen ke Rp3.480.
Di antara saham dengan penurunan persentase terdalam, PT Tjokro Bersaudara Tbk (TAMA) merosot 9,52 persen menjadi Rp152 dan PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO) turun 9,52 persen ke Rp171.
PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) melemah 9,30 persen menjadi Rp78. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) turun 9,09 persen ke Rp40, sedangkan PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) terkoreksi 8,33 persen menjadi Rp33.
Di tengah pelemahan mayoritas saham, beberapa emiten justru mencatatkan penguatan. PT Tempo Intimedia Tbk (TMPO) naik 28,79 persen menjadi Rp170, PT Pudjiadi & Sons Tbk (PNSE) menguat 25 persen ke Rp480, dan PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK) naik 24,84 persen menjadi Rp4.020.
PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) menguat 20,24 persen ke Rp5.050, sedangkan PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD) naik 20 persen menjadi Rp6.750.
Sementara itu, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) melonjak 16,42 persen ke Rp7.975 dan menjadi penopang utama indeks. Saham BSWD, BIKE, TRUK, serta PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), yang naik 3,96 persen menjadi Rp2.360, turut masuk dalam daftar saham yang menguat.
Gejolak pasar saham Indonesia kini tidak hanya mencerminkan tekanan jual dalam jangka pendek, tetapi juga meningkatnya perhatian investor terhadap transparansi, tata kelola, dan kredibilitas reformasi pasar modal. Perkembangan kebijakan MSCI serta respons regulator akan menjadi faktor penting yang dicermati pelaku pasar dalam menentukan arah investasi berikutnya.
Sumber: CNBC

































