Manyala.co — Lembaga pengawas stabilitas keuangan global, Financial Stability Board (FSB), memperingatkan bahwa banyak negara belum memiliki mekanisme pendanaan darurat yang memadai untuk menangani bank yang terancam bangkrut. Ketiadaan skema tersebut berisiko memperburuk krisis ketika bank mengalami tekanan likuiditas secara tiba-tiba.
Mengutip Reuters, Kamis (15/10/2026), FSB mendesak otoritas di berbagai negara untuk memperkuat mekanisme pendanaan darurat bagi bank yang mengalami kegagalan. FSB merupakan lembaga internasional yang bertugas memantau risiko terhadap stabilitas sistem keuangan global.
Dalam evaluasi penerapan standar penanganan bank bermasalah, FSB menemukan bahwa kurang dari separuh yurisdiksi yang ditinjau memiliki mekanisme pendanaan yang memenuhi tiga kriteria utama, yakni aturan yang jelas, kapasitas dana yang memadai, serta kemampuan pencairan secara cepat ketika krisis terjadi.
Evaluasi tersebut dilakukan untuk memastikan bank yang gagal dapat ditangani secara tertib tanpa selalu bergantung pada dana talangan yang bersumber dari pembayar pajak.
Secara rinci, hanya Hong Kong, Jepang, Amerika Serikat (AS), dan Inggris yang dinyatakan sepenuhnya memenuhi persyaratan FSB. Sebaliknya, India dan Argentina dinilai belum memenuhi standar tersebut.
Sementara itu, Uni Eropa (UE) melalui serikat perbankannya dan Swiss masuk dalam kelompok yang dinilai memiliki ketidakpatuhan material terhadap persyaratan pendanaan darurat.
Belajar dari Krisis Credit Suisse
Peninjauan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan sistem keuangan global setelah gejolak perbankan pada 2023, termasuk runtuhnya Credit Suisse, salah satu bank terbesar di Swiss.
Credit Suisse akhirnya diambil alih oleh UBS melalui skema penyelamatan yang dirancang pemerintah Swiss setelah bank tersebut mengalami tekanan likuiditas serius.
Proses penyelamatan itu didukung sejumlah fasilitas likuiditas darurat, jaminan likuiditas pemerintah, serta penghapusan nilai obligasi Additional Tier 1 (AT1) milik bank tersebut.
Kasus Credit Suisse memperlihatkan bagaimana hilangnya kepercayaan pasar dan tekanan likuiditas dapat mendorong sebuah bank menghadapi krisis dalam waktu singkat.
FSB juga memperingatkan bahwa kegagalan bank dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan betapa cepat tekanan likuiditas dapat memburuk. Karena itu, otoritas perlu memastikan tersedianya mekanisme pendanaan yang dapat segera digunakan ketika sebuah bank gagal, sehingga stabilitas keuangan tetap terjaga dan krisis tidak meluas.
Negara Diminta Siapkan Dana Penyelamatan
FSB merekomendasikan agar otoritas di berbagai negara mengidentifikasi sejak dini sumber pendanaan publik sementara yang dapat digunakan ketika bank mengalami kegagalan.
Selain itu, pemerintah perlu memiliki dasar hukum yang jelas untuk memberikan dukungan keuangan, sekaligus kewenangan untuk memulihkan kerugian yang mungkin timbul akibat penggunaan dana tersebut.
Wakil Gubernur Bank Sentral Spanyol sekaligus Ketua Kelompok Peninjauan Sejawat FSB, Soledad Núñez, menegaskan pentingnya mekanisme pendanaan darurat yang dapat dipercaya.
“Mekanisme pendanaan penyangga dari sektor publik yang kredibel sangatlah penting,” ujarnya.
Rekomendasi tersebut menyoroti tantangan yang masih dihadapi sistem keuangan global, yakni memastikan bank dapat ditangani secara tertib ketika mengalami kegagalan sekaligus membatasi risiko kerugian yang harus ditanggung masyarakat.
Bagi pemerintah dan regulator, kesiapan pendanaan darurat menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah masalah pada satu bank berkembang menjadi gangguan yang lebih luas terhadap sistem keuangan.
Sumber: CNBC

































