Makassar, Manyala.co – Muhammad Nusran, dosen sekaligus peneliti dari Teknik Industri FTI UMI Makassar, menuliskan pandangannya mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, MBG merupakan salah satu agenda prioritas Presiden Prabowo Subianto yang dirancang untuk memperbaiki kondisi gizi dan kesehatan anak sekolah.
Nusran menegaskan bahwa MBG bukan sekadar pembagian makanan, tetapi bentuk investasi jangka panjang demi mencetak generasi yang sehat, kuat, dan berakhlak. Prinsip halal dan sesuai syariat menjadi pondasi program ini agar anak-anak, sebagai amanah dari Allah, mendapat asupan bergizi yang baik, thayyib, dan menyehatkan sehingga mampu tumbuh menjadi individu yang cerdas, produktif, dan bertakwa (Unicef, 2019).
Dari sisi maslahat, Nusran menjabarkan sejumlah manfaat besar MBG bagi masyarakat.
Pertama, program ini secara langsung membantu memperbaiki status gizi anak-anak, terutama dari keluarga kurang mampu. Dengan menu yang dijamin halal dan bernutrisi, MBG berpotensi menekan angka stunting yang hingga kini masih berada di atas standar WHO (SSGI, 2023; Kemenkes, 2022).
Kedua, anak-anak yang mendapatkan gizi cukup memiliki peluang tinggi menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan berakhlak, sehingga mampu bersaing di masa depan dengan berlandaskan nilai-nilai Islam (Schultz, 1961).
Ketiga, MBG ikut berperan dalam mengurangi ketimpangan sosial. Semua anak tanpa kecuali memperoleh kesempatan setara untuk menikmati makanan halal bergizi, sejalan dengan prinsip keadilan dalam Islam (Rawls, 1971; Iqbal, 2011).
Meski begitu, Nusran mengingatkan adanya beberapa tantangan yang perlu diperhatikan. Variasi menu harus terus diperbaiki agar anak tidak mudah bosan, sekaligus memastikan keseimbangan gizi sesuai pedoman pangan Islami (Almatsier, 2009). Selain itu, distribusi harus tepat sasaran dan dilakukan secara amanah, sehingga bantuan benar-benar diterima oleh anak-anak yang membutuhkan (Coady et al., 2004). Tak kalah penting, edukasi gizi halal bagi orang tua dan siswa diperlukan agar kesadaran mereka meningkat terhadap pentingnya pangan yang baik bagi kesehatan fisik maupun spiritual (Story & Neumark-Sztainer, 2005).
Nusran menilai keberhasilan MBG membutuhkan keterlibatan luas dari masyarakat mulai dari UKM, koperasi, organisasi Islam, tokoh agama, hingga relawan. Di sisi lain, pengawasan serta evaluasi berbasis prinsip syariah mutlak diperlukan agar program tetap efektif, efisien, dan sesuai tujuan (Patton, 2002; Dusuki & Abdullah, 2007).
Dengan kerja sama yang solid antara pemerintah dan masyarakat, Nusran meyakini MBG dapat menjadi program unggulan yang membawa manfaat besar, meningkatkan kesejahteraan, dan menghadirkan keberkahan bagi bangsa di masa mendatang. Semoga niat baik tersebut menghadirkan hasil terbaik ke depan.(*)
































