Manyala.co – Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memecat Kepala Biro Statistik Tenaga Kerja (Bureau of Labor Statistics/BLS), Erika McEntarfer, awal Agustus 2025, menuai gelombang kritik baik di dalam negeri maupun di kancah global. Pemecatan itu dilakukan setelah laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan hasil jauh di bawah harapan serta revisi besar-besaran terhadap data lapangan kerja sebelumnya.
Trump menuding adanya manipulasi data, meski tidak pernah menunjukkan bukti yang kuat. Langkah ini membuat kalangan ekonom, investor, hingga lembaga pemeringkat mulai mempertanyakan masa depan kredibilitas data ekonomi Amerika Serikat, yang selama puluhan tahun dianggap sebagai tolok ukur atau standar emas di dunia.
Kekhawatiran Manipulasi Data
Alan Blinder, mantan wakil ketua Federal Reserve, menilai tindakan Trump sebagai sebuah preseden berbahaya. Ia mengingatkan risiko jika data resmi pemerintah dipolitisasi. “Kekhawatiran berikutnya adalah manipulasi data. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan global pada kesehatan ekonomi AS, yang dampaknya menyentuh hampir setiap orang di bumi,” katanya.
Peran ekonomi AS memang meluas ke seluruh dunia. Apa yang terjadi di Wall Street, misalnya, bisa berdampak hingga ke pemulung di kawasan kumuh negara berkembang. Karena itu, intervensi politik dalam lembaga statistik menimbulkan kekhawatiran serius.
Pelajaran dari Yunani dan Argentina
Ada pengalaman pahit dari negara lain yang menjadi rujukan. Pada awal 2000-an, Yunani mengaku telah memalsukan data defisit untuk bisa masuk ke zona euro. Kebohongan itu memperburuk krisis keuangan 2008–2009, membuat investor enggan membeli obligasi negara tersebut, hingga memaksa pemerintah menjalankan kebijakan penghematan ketat yang berujung pada kerusuhan sosial.
Kasus serupa juga menimpa Argentina. Sejak era Presiden Néstor Kirchner pada 2007, pejabat statistik yang melaporkan lonjakan inflasi dicopot. Data resmi kemudian dipoles sehingga tidak mencerminkan kenyataan. Akibatnya, kepercayaan publik hancur dan peringkat kredit negara itu terjerembab di level “sampah” selama bertahun-tahun, membuat biaya pinjaman melonjak dan pembangunan infrastruktur terganggu.
Pemerintah Membantah
Meski dikritik, Gedung Putih membantah bahwa pemecatan McEntarfer bermotif politik. Menurut juru bicara Taylor Rogers, tujuan Trump adalah memulihkan kepercayaan pada BLS yang dianggap terlalu sering melakukan revisi signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Presiden ingin memastikan rumah tangga, pelaku usaha, dan pembuat kebijakan memiliki data akurat untuk pengambilan keputusan. Revisi yang tidak normal sejak pandemi COVID menimbulkan pertanyaan serius tentang akurasi BLS,” kata Rogers.
Kondisi Berbeda dengan Yunani dan Argentina
Namun, sebagian ekonom menilai situasi AS tidak bisa disamakan dengan Yunani maupun Argentina. Robert Shapiro, Ketua firma konsultan ekonomi Sonecon, menegaskan ekonomi AS masih berada dalam kondisi kuat. “Kami adalah ekonomi terbesar di dunia, dengan PDB lebih dari 30 triliun dolar AS dan pertumbuhan 3 persen di kuartal kedua 2025. Kondisinya jelas berbeda dibandingkan Yunani atau Argentina yang saat itu sudah krisis ketika data palsu terbongkar,” ujarnya.
Masalah Struktural BLS
Meski tuduhan manipulasi sulit dibuktikan, sejumlah ekonom mengakui ada persoalan teknis dalam pengumpulan data BLS. Kathryn Rooney Vera, Kepala Ekonom StoneX, menjelaskan revisi besar yang terjadi beberapa tahun terakhir bukan karena faktor politik, melainkan karena metode perhitungan yang sudah ketinggalan zaman serta keterbatasan anggaran.
Contohnya pada 2024, revisi tahunan menunjukkan jumlah lapangan kerja yang sebenarnya bertambah 818.000 lebih sedikit dari laporan awal. Bagi sebagian kalangan, perbedaan ini menandakan kelemahan sistem yang perlu diperbaiki.
Selain itu, BLS kini memiliki staf yang lebih sedikit dibandingkan dekade sebelumnya akibat pemangkasan anggaran. Kondisi ini memperlambat pengumpulan data, menunda rilis resmi, serta meningkatkan risiko terjadinya revisi besar setelah publikasi awal.
Kredibilitas Data Masih Dijaga
Walau begitu, analis tetap menekankan bahwa mustahil ada intervensi manual dalam laporan BLS. William Beach, mantan pejabat BLS di era Trump, menyatakan angka yang diterbitkan sudah terkunci dalam sistem komputer sehingga tidak bisa diubah oleh kepala biro maupun pejabat lain. “BLS adalah institusi kelas dunia. Tidak ada ruang bagi manipulasi data secara politik,” ujarnya.
Michael Heydt, analis senior sovereign di Morningstar DBRS, juga menambahkan bahwa tidak ada pengganti untuk data pemerintah yang kredibel. Menurutnya, BLS dan lembaga statistik AS lainnya telah lama diisi oleh profesional nonpartisan yang menjaga independensi.
Menanti Langkah Selanjutnya
Kini, publik dan pelaku pasar menunggu langkah selanjutnya dari Gedung Putih. Apakah Trump akan menempatkan sosok partisan di BLS, atau justru memilih teknokrat independen yang bisa memulihkan kepercayaan?
Bagi banyak pihak, langkah ini akan menentukan apakah Amerika Serikat masih bisa mempertahankan reputasinya sebagai penyedia data ekonomi paling terpercaya di dunia. Sebab sekali kredibilitas itu rusak, dampaknya bisa merembet ke pasar global, seperti yang pernah terjadi di Yunani dan Argentina.
































