Xi Jinping Bereaksi Keras Setelah Mahasiswa China Dipaksa Keluar dari Harvard oleh Trump

Xi Jinping Bereaksi Keras Setelah Mahasiswa China Dipaksa Keluar dari Harvard oleh Trump - China - Gambar 1308
Xi Jinping Bereaksi Keras Setelah Mahasiswa China Dipaksa Keluar dari Harvard oleh Trump. (dok. theaustralian.com)

Manyala.co – Kebijakan terbaru dari pemerintahan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mencabut izin Universitas Harvard untuk menerima mahasiswa internasional, menuai protes keras dari pemerintah China. Langkah ini memicu kemarahan Beijing, terutama karena sejumlah besar mahasiswa asing yang terdampak berasal dari Tiongkok.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menanggapi kebijakan ini dengan menyebutnya sebagai bentuk politisasi dunia pendidikan. “China secara konsisten menolak pendekatan yang mempolitisasi kerja sama akademik,” ujarnya seperti dikutip oleh Channel News Asia pada Sabtu, 24 Mei 2025.

Langkah pemerintah AS ini tak hanya mencegah mahasiswa internasional baru untuk mendaftar, tapi juga mewajibkan mahasiswa asing yang tengah belajar di Harvard untuk segera pindah ke universitas lain guna mempertahankan status visa mereka. Jika tidak, mereka terancam kehilangan izin tinggal secara legal di AS.

Dalam pernyataan resminya, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menyatakan bahwa keputusan ini diambil karena kampus Harvard dianggap telah gagal menjaga keamanan akademik. Mereka menuding pihak universitas telah memberikan ruang bagi kelompok agitator anti-Amerika dan pendukung aksi teroris yang menyerang mahasiswa, termasuk mahasiswa Yahudi.

Lebih jauh, pemerintah AS juga menuding Harvard menjalin kerja sama aktif dengan Partai Komunis China (PKC), termasuk menampung anggota kelompok paramiliter yang terlibat dalam penindasan terhadap etnis Uighur. Tuduhan ini memperburuk ketegangan politik antara dua negara adidaya tersebut.

Elon Musk Nilai Kuliah Kian Kurang Relevan di Era AI

Pihak Harvard sendiri membantah keras tuduhan tersebut dan menggugat pemerintah AS, menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk tindakan balasan yang inkonstitusional. Mereka menegaskan komitmen mereka dalam melindungi keberadaan mahasiswa internasional dan mempertahankan lingkungan kampus yang inklusif dan aman. “Kami sepenuhnya berkomitmen untuk mendukung komunitas global kami, yang berasal dari lebih dari 140 negara,” bunyi pernyataan resmi universitas itu.

Dalam tahun ajaran 2024-2025, Harvard tercatat menampung sekitar 6.800 mahasiswa internasional sekitar 27 persen dari total populasi mahasiswanya. Warga negara China sendiri menyumbang sekitar 20 persen dari angka tersebut, menjadikan mereka kelompok mahasiswa asing terbesar di kampus itu.

Di lapangan, kebijakan ini memicu kepanikan di kalangan mahasiswa asing, khususnya mahasiswa asal China. Salah satunya adalah Zhang Kaiqi, mahasiswa program magister kesehatan masyarakat, yang sempat membatalkan penerbangan pulangnya ke China setelah mendengar kabar tersebut, padahal ia telah bersiap untuk menjalani magang di sebuah LSM. “Saya kecewa dan tidak percaya. Awalnya saya pikir ini hanya berita palsu,” katanya.

Teresa, mahasiswa pascasarjana di Harvard Kennedy School, menyebut bahwa dosen-dosennya telah mengirim email yang menyatakan pihak kampus sedang menyusun tanggapan resmi dalam waktu 72 jam. Dalam postingannya di platform Xiaohongshu, ia menyebut dirinya sebagai “pengungsi Harvard”.

Sementara itu, para mahasiswa asing kini berkonsultasi dalam grup WhatsApp bersama pengacara-pengacara imigrasi untuk mencari jalan keluar. Dalam salah satu transkrip obrolan yang dibagikan, seorang pengacara menyarankan mahasiswa asing untuk tidak bepergian, bahkan dengan penerbangan domestik, sembari menunggu arahan resmi dari pihak kampus.

Bukan China atau Rusia, Negara Ini Rajai Emas Dunia 2026

Langkah Trump ini juga menjadi bagian dari serangkaian kebijakan keras terhadap Harvard, setelah sebelumnya pemerintah memangkas dana federal dan hibah senilai lebih dari 2,6 miliar dolar AS. Bulan lalu, Trump sempat mengancam akan mencabut penerimaan mahasiswa internasional jika Harvard tidak tunduk pada sejumlah tuntutan yang dinilai mengekang independensi akademik.

Jumlah mahasiswa China di AS memang menurun tajam dalam beberapa tahun terakhir dari puncaknya sekitar 370.000 pada 2019 menjadi sekitar 277.000 di tahun 2024. Penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya tensi geopolitik dan pengawasan ketat pemerintah AS terhadap pelajar asal Tiongkok.

Berita Terbaru

Berita Terpopuler

01

Deretan Calon Ketua IKA Teknik Sipil Unhas, 2 Dosen Siap Lanjutkan Tongkat Kepemimpinan

02

Indonesia Dukung Palestina lewat Board of Peace, Israel Tetap Menolak

03

Prabowo Luncurkan Program Gentengnisasi Lewat Gerakan Indonesia ASRI

04

Serangan Bersenjata di Balochistan Tewaskan 48 Orang

05

Tujuh Pangkalan Udara Terbesar Amerika Berdasarkan Populasi

PEMKOT MAKASSAR - MANYALA.CO
manyala-ads
Manyala.co

Olahraga

Indonesia Ajukan Diri Tuan Rumah Piala Asia 2031

Indonesia ke Final Piala Asia Futsal Usai Kalahkan Jepang

Indonesia Lolos Perempat Final Piala Asia Futsal 2026

Indonesia Juara Grup A Usai Imbang Lawan Irak

Alwi Farhan Lolos Final Indonesia Masters 2026

Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria, Solomon dan Saint Kitts di FIFA Series

Leo/Bagas Lolos Babak Kedua Indonesia Masters 2026

PSM Makassar Tambah Dua Pemain Asing Hadapi Putaran Kedua

Jonatan Christie Runner-up India Open 2026

PSM Makassar Hadirkan Bus Tim dan Rilis Jersey Khusus Suporter

Prabowo Realisasikan Bonus Atlet SEA Games 2025

Mental Juang PSM Makassar Diuji Jelang Laga Kontra Bali United

Malaysia Open 2026: Lima Wakil Indonesia Tampil di Babak 16 Besar

PSM Makassar Uji Pertahanan Hadapi Trisula Borneo FC

Indonesia Usulkan Australia dan Selandia Baru Ikut SEA Games

Indonesia Juara Piala AFF Futsal U-16

Trucha Optimistis PSM Kejar Lima Besar Meski Tanpa Kemenangan

Indonesia U-16 Melaju ke Final AFF Futsal 2025

Ranking FIFA Terbaru: Indonesia Bertahan di Posisi 122

Futsal Competition 2025, KKG PJOK Tallo Tekankan Kolaborasi

Kolom