RA Kartini: Dari Gelap Menuju Terang, Jejak Emansipasi yang Mengubah Wajah Bangsa

RA Kartini: Dari Gelap Menuju Terang, Jejak Emansipasi yang Mengubah Wajah Bangsa - Emansipasi perempuan - Gambar 1940

Pelita dalam Kegelapan, Perjuangan Sang Emansipator Bangsa

Manyala.co – Nama Raden Adjeng Kartini tidak hanya terpatri dalam kalender nasional sebagai peringatan Hari Kartini setiap 21 April, tetapi juga mengendap dalam sejarah sebagai simbol perjuangan perempuan Indonesia. Di balik nama itu, tersimpan kisah perjuangan yang kompleks—menembus batas adat, melawan keterbatasan kolonial, dan membangun warisan pemikiran yang tak lekang oleh zaman.

Lebih dari sekadar tokoh ikonik, RA Kartini adalah wujud nyata bagaimana kekuatan ide, pendidikan, dan keberanian moral mampu mengubah arah sebuah bangsa.

Anak Bangsawan yang Terlahir dalam Sistem yang Mengurung

Terbukti! 1 Tahun UCU–IWAN Bangun Enrekang: Pertanian Aman, Infrastruktur Melesat, Kesehatan Berprestasi

Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, sebagai anak kelima dari pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang bupati Jepara, dan Ngasirah. Meski berdarah bangsawan, status ibunya yang bukan keturunan priyayi murni membuat posisi Kartini dalam keluarga sedikit terpinggirkan menurut adat saat itu.

Kartini berkesempatan menempuh pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah Belanda yang hanya terbuka bagi anak-anak Eropa dan bangsawan pribumi. Namun, pendidikan formalnya terpaksa berhenti saat ia menginjak usia 12 tahun, karena tradisi pingitan yang mengharuskan gadis bangsawan dipingit sampai menikah.

Di balik dinding pingitan itulah, Kartini justru membangun dunia intelektualnya sendiri. Ia membaca buku-buku berbahasa Belanda, mengamati kondisi sosial di sekitarnya, dan menulis surat kepada sahabat-sahabatnya di Eropa, terutama Rosa dan Abendanon, pasangan progresif dari kalangan pejabat kolonial.

Dunia Dalam Surat: Melawan dalam Sunyi

Kementerian Hukum Raih Dua Penghargaan Gold di Ajang PR Indonesia Awards 2026

Surat-surat Kartini, yang kemudian menjadi sumber utama pemikiran dan perjuangannya, menunjukkan kecerdasan emosional dan daya analisis yang tajam. Ia menulis tentang berbagai topik—pendidikan, kesetaraan, pernikahan paksa, feodalisme Jawa, hingga perlakuan terhadap rakyat jelata.

Salah satu keluhannya yang paling menyayat tertuju pada ketimpangan pendidikan bagi perempuan:

“Apakah guna memiliki akal budi jika tidak boleh menggunakannya? Apakah gunanya pikiran jika harus dibelenggu oleh adat yang buta?”

Di balik surat-surat itu, Kartini membangun gagasan besar: perempuan harus mendapatkan hak yang sama untuk belajar dan berpikir, dan bahwa kemajuan bangsa tidak mungkin tercapai tanpa melibatkan separuh dari populasinya.

Kemenkum Jabar Dampingi Pendaftaran Merek Kolektif UMKM Cianjur

Ketika Tradisi dan Kolonialisme Bertemu

Gagasan Kartini tidak diterima begitu saja. Di lingkungan bangsawan Jawa, usulan agar perempuan mendapat pendidikan dianggap berbahaya. Ia juga menghadapi batasan dari sistem kolonial Hindia Belanda, yang secara struktural menempatkan rakyat pribumi dalam posisi subordinat.

Kartini sempat mendapat tawaran beasiswa untuk belajar di Belanda, namun rencana itu tidak terwujud. Desakan dari keluarga dan kekhawatiran terhadap tekanan sosial membuatnya menikah pada usia 24 tahun dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah beristri dan jauh lebih tua.

Namun, pernikahan itu justru menjadi titik balik. Sang suami, yang ternyata lebih terbuka daripada yang dibayangkan, mendukung Kartini mendirikan sekolah perempuan di Rembang. Di tengah kondisi yang penuh keterbatasan, Kartini menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari mana saja.

Warisan Sekolah, Surat, dan Sebuah Buku yang Menggema

Setelah wafat di rembang pada 17 September 1904 di umur 25 tahun akibat komplikasi persalinan, perjuangan Kartini tidak berhenti. Sahabatnya, J.H. Abendanon, mengumpulkan surat-surat Kartini dan menerbitkannya dalam buku berjudul “Door Duisternis tot Licht”—dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Buku ini menjadi bacaan wajib bagi kaum intelektual awal abad ke-20. Gagasan Kartini menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Ki Hajar Dewantara, Dewi Sartika, dan Sutan Sjahrir. Lebih dari itu, buku ini juga sampai ke Belanda dan negara-negara lain, menjadi saksi bahwa perempuan dari negeri jajahan mampu melahirkan pemikiran yang menggugah dunia.

Pengakuan dan Relevansi Hari Ini

Pada tahun 1964, Presiden Soekarno menetapkan RA Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Sejak saat itu, tanggal lahirnya diperingati sebagai Hari Kartini.

Namun, peringatan ini tidak semestinya berhenti pada parade kebaya atau lomba rias wajah. Kartini adalah simbol perjuangan untuk keadilan struktural, pendidikan, dan hak asasi. Ia menolak takdir yang ditentukan oleh jenis kelamin, dan menolak tunduk pada sistem yang membungkam suara perempuan.

Di era sekarang, perjuangan Kartini masih relevan. Ketimpangan pendidikan, kekerasan berbasis gender, pernikahan anak, dan keterbatasan akses perempuan dalam pengambilan keputusan masih menjadi tantangan di berbagai wilayah Indonesia.

Kartini Milik Semua Zaman

RA Kartini mengajarkan bahwa perubahan besar dimulai dari keberanian untuk bertanya dan tekad untuk bertindak, walau dari ruang sekecil apapun. Ia memang tak pernah mengangkat senjata, tetapi senjatanya adalah pena, pikirannya adalah revolusi, dan perjuangannya adalah fondasi.

Hari ini, ketika kita mengenang Kartini, sejatinya kita sedang menyalakan kembali semangat untuk membuka jalan terang—bagi perempuan, bagi pendidikan, dan bagi Indonesia yang lebih adil. (Istimewa)

Berita Terbaru

Berita Terpopuler

01

Deretan Calon Ketua IKA Teknik Sipil Unhas, 2 Dosen Siap Lanjutkan Tongkat Kepemimpinan

02

Indonesia Dukung Palestina lewat Board of Peace, Israel Tetap Menolak

03

Prabowo Luncurkan Program Gentengnisasi Lewat Gerakan Indonesia ASRI

04

Serangan Bersenjata di Balochistan Tewaskan 48 Orang

05

Tujuh Pangkalan Udara Terbesar Amerika Berdasarkan Populasi

PEMKOT MAKASSAR - MANYALA.CO
HUT Kabupaten Enrekang Ke-66
Manyala.co

Olahraga

Erick Thohir Bantah Laporkan FAM ke FIFA

PSSI: Tak Ada Naturalisasi Baru di FIFA Series

Olahraga Saat Puasa Aman dengan Penyesuaian Intensitas

KNPI Makassar Bersama KKG PJOK Tallo Gelar Kompetisi Futsal dan Voli Pelajar

Indonesia Ajukan Diri Tuan Rumah Piala Asia 2031

Indonesia ke Final Piala Asia Futsal Usai Kalahkan Jepang

Indonesia Lolos Perempat Final Piala Asia Futsal 2026

Indonesia Juara Grup A Usai Imbang Lawan Irak

Alwi Farhan Lolos Final Indonesia Masters 2026

Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria, Solomon dan Saint Kitts di FIFA Series

Leo/Bagas Lolos Babak Kedua Indonesia Masters 2026

PSM Makassar Tambah Dua Pemain Asing Hadapi Putaran Kedua

Jonatan Christie Runner-up India Open 2026

PSM Makassar Hadirkan Bus Tim dan Rilis Jersey Khusus Suporter

Prabowo Realisasikan Bonus Atlet SEA Games 2025

Mental Juang PSM Makassar Diuji Jelang Laga Kontra Bali United

Malaysia Open 2026: Lima Wakil Indonesia Tampil di Babak 16 Besar

PSM Makassar Uji Pertahanan Hadapi Trisula Borneo FC

Indonesia Usulkan Australia dan Selandia Baru Ikut SEA Games

Indonesia Juara Piala AFF Futsal U-16

Kolom