Manyala.co – Ratu Belanda Maxima tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Senin (24/11) malam untuk menjalankan rangkaian agenda sebagai Advokat Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Keuangan Inklusif. Kedatangannya disambut pasukan jajar kehormatan dan tidak terkait dengan kapasitasnya sebagai representasi Kerajaan Belanda.
Maxima, yang bernama lengkap Maxima Zorreguieta, lahir di Buenos Aires, Argentina, pada 17 Mei 1971. Ia tumbuh besar di negara tersebut sebelum bertemu Willem-Alexander, kala itu Putra Mahkota Kerajaan Belanda, pada 1999 di Sevilla, Spanyol. Keduanya bertunangan pada 2001, tahun yang sama ketika Maxima memperoleh kewarganegaraan Belanda. Pasangan ini menikah pada 2 Februari 2002 di Amsterdam dalam upacara kerajaan yang sempat memicu perdebatan publik.
Kontroversi saat itu dipicu oleh latar belakang ayah Maxima, Jorge Zorreguieta, yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Pertanian pada rezim Jenderal Jorge Rafael Videla di Argentina. Pemerintahan Videla, yang berkuasa pada 1976–1981, dikenal secara luas sebagai periode “Perang Kotor,” ditandai oleh penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, dan penghilangan paksa terhadap ribuan warga sipil. Karena keterkaitannya, Jorge tidak diizinkan menghadiri pernikahan putrinya.
Meski kontroversi tersebut mencuat, Maxima melanjutkan kiprah profesionalnya di dunia keuangan. Sebelum menjadi anggota keluarga kerajaan, ia berkarier di sektor finansial internasional dan kemudian ditunjuk sebagai Advokat Khusus Sekjen PBB untuk Keuangan Inklusif, posisi yang ia emban hingga kini. Perannya berfokus pada peningkatan akses layanan keuangan untuk masyarakat berpenghasilan rendah di berbagai negara.
Agenda kunjungannya di Indonesia mencakup pertemuan strategis dengan sejumlah lembaga nasional dan internasional. Menurut keterangan resmi Sekretariat Presiden, Maxima dijadwalkan bertemu Presiden Prabowo Subianto untuk membahas peluang kolaborasi dalam memperkuat keuangan inklusif di Indonesia. Pemerintah memandang kunjungan ini sebagai momentum untuk memperdalam hubungan kerja dengan PBB di bidang ekonomi dan pemberdayaan finansial.
Kunjungan Maxima tidak terpusat di Jakarta. Pada 25 November, ia dijadwalkan mengunjungi Solo, Jawa Tengah, untuk berdialog dengan buruh garmen, pelaku UMKM batik, serta wirausaha perempuan melalui program Reimagining Industries to Support Equality (RISE). Ia juga menghadiri sesi bersama kaum muda yang diselenggarakan oleh Women’s World Banking, membahas akses generasi muda terhadap layanan keuangan.
Keesokan harinya, 26 November, Maxima akan berada di Jakarta untuk mengunjungi kantor PBB, International Finance Corporation, dan sejumlah lembaga yang terlibat dalam pengembangan inklusi finansial. Ia juga dijadwalkan meninjau program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Indonesia serta mengunjungi Deloitte untuk membahas kesehatan finansial pekerja.
Pada 27 November, Maxima akan menghadiri National Financial Health Event yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Acara ini menjadi puncak rangkaian kegiatan sebelum ia menutup kunjungan dengan pertemuan lanjutan bersama Presiden Prabowo guna merangkum hasil kegiatan selama tiga hari.
Hingga laporan ini disusun, belum ada keterangan tambahan dari pihak Kerajaan Belanda terkait perkembangan lebih lanjut agenda Ratu Maxima di Indonesia.
































