Manyala.co – Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah tokoh nasional dilakukan untuk kepentingan bangsa dan masyarakat, melalui komunikasi terbuka maupun tertutup guna membahas program pemerintah dan menerima masukan.
Pernyataan itu disampaikan Prasetyo di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin. Ia menjelaskan, pola komunikasi Presiden selama ini mencakup dialog publik maupun pertemuan tertutup sebagai bagian dari mekanisme konsultasi kebijakan.
“Inilah cara Bapak Presiden selama ini juga berkomunikasi. Ada yang terbuka, ada yang tertutup dalam rangka berdiskusi, menerima masukan, sekaligus memberikan penjelasan juga terhadap program-program yang sedang dijalankan oleh pemerintah,” kata Prasetyo.
Prasetyo membantah anggapan bahwa pertemuan tersebut dilakukan dengan tokoh oposisi. Menurutnya, Presiden bertemu dengan figur nasional yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu strategis di bidang masing-masing.
“Bukan tokoh oposisi. Tapi, beliau bertemu dengan tokoh-tokoh nasional yang memiliki kepedulian di bidangnya masing-masing,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa komunikasi semacam itu merupakan praktik positif dalam tata kelola pemerintahan, terutama untuk memperluas ruang dialog lintas sektor. Tokoh yang hadir, kata dia, berasal dari berbagai latar belakang profesional dan bukan dari unsur partai politik.
“Tokoh parpol tidak ada. Kemarin ada tokoh kepemiluan Prof. Siti Zuhro, tokoh pemberantasan korupsi mantan Ketua KPK Bapak Abraham Samad, kemudian tokoh kepolisian mantan Kabareskrim Bapak Susno,” kata Prasetyo.
Istana juga memastikan pertemuan serupa akan berlanjut dalam waktu mendatang. “Ada beberapa yang nanti juga akan terus kita lanjutkan dengan tokoh-tokoh yang lain,” ujar Prasetyo.
Sebelumnya, Presiden Prabowo diketahui menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh nasional di kediaman pribadinya di Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, pada Jumat (30/1). Salah satu pertemuan berlangsung selama sekitar lima jam dengan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad.
Informasi awal mengenai pertemuan tersebut disampaikan oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Ia menyebut Presiden bertemu dengan tokoh-tokoh oposisi guna membahas kepentingan negara. Pernyataan itu kemudian diluruskan oleh Mensesneg Prasetyo Hadi yang menegaskan bahwa figur yang ditemui bukan representasi oposisi formal.
Pertemuan Presiden dengan tokoh non-partai terjadi di tengah dinamika politik nasional pasca-transisi pemerintahan. Sejumlah pengamat menilai komunikasi lintas kelompok dapat menjadi sarana konsolidasi kebijakan, terutama pada isu-isu strategis seperti reformasi kelembagaan, pemberantasan korupsi, serta tata kelola kepemiluan.
Namun hingga Senin siang, belum ada penjelasan rinci dari Istana mengenai agenda spesifik maupun hasil konkret dari pertemuan-pertemuan tersebut.
Pemerintah menyatakan dialog dengan berbagai elemen masyarakat akan terus dilakukan sebagai bagian dari proses perumusan kebijakan yang inklusif. Istana belum merinci jadwal pertemuan berikutnya.
































