Manyala.co – Penanganan kasus video porno yang melibatkan sosok Lisa Mariana terus bergulir di Polda Jawa Barat. Setelah sebelumnya Lisa mengakui bahwa dirinya adalah perempuan dalam video yang tersebar luas di media sosial dan grup percakapan, kini polisi juga telah memeriksa sosok pria yang menjadi lawan main dalam rekaman tersebut.
Kepala Bidang Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawa, mengonfirmasi bahwa penyidik telah meminta keterangan dari laki-laki yang ada di video itu. Pria tersebut diidentifikasi dengan inisial F dan disebut memiliki tato yang khas, sesuai dengan ciri yang terlihat dalam rekaman. F sendiri telah mengakui keterlibatannya dan membenarkan bahwa dirinya memang orang yang ada dalam video tersebut.
“Jadi dari pemeriksaan sementara, keduanya saling mengenal. Si laki-laki adalah teman pergaulan dari yang bersangkutan (Lisa Mariana). Hubungannya cukup dekat dan bisa dibilang mesra,” ujar Hendra kepada wartawan.
Pernyataan Hendra itu juga menekankan bahwa kedua pihak yang terlibat dalam video tersebut sudah mengakui peran masing-masing tanpa ada paksaan. Hal ini dinilai penting untuk mendalami motif dan konteks pembuatan video tersebut, termasuk apakah ada unsur eksploitasi, penyebaran tanpa izin, atau tindakan melawan hukum lainnya.
Sebelumnya, Lisa Mariana terlihat mendatangi Polda Jawa Barat pada Selasa, 15 Juli 2025 untuk memenuhi panggilan pemeriksaan. Ia datang dengan mengenakan pakaian sederhana dan dikawal oleh kuasa hukumnya. Dalam pemeriksaan itu, Lisa memberikan pernyataan resmi kepada penyidik dan membenarkan bahwa perempuan dalam video itu adalah dirinya sendiri.
Lisa menyampaikan bahwa video tersebut merupakan dokumentasi pribadi dan tidak pernah ia sebarkan secara sengaja. Ia juga mengaku bahwa perekaman dilakukan atas dasar suka sama suka, tanpa ada tekanan atau paksaan dari pihak manapun. Namun, kini ia merasa menjadi korban penyebaran konten pribadi yang menyalahi batas privasi.
“Dia (Lisa) sudah mengakui secara terbuka bahwa dirinya adalah pihak yang ada dalam video. Pemeran pria pun demikian. Kita saat ini sedang mendalami bagaimana video tersebut bisa tersebar ke publik,” jelas Hendra.
Ketika ditanya lebih lanjut mengenai latar belakang pria berinisial F itu, apakah ia berasal dari kalangan selebritas, model, atau figur publik lainnya, Hendra tidak memberikan informasi rinci. Ia hanya menyatakan bahwa F bukan sosok asing dalam kehidupan Lisa. “Bukan artis atau figur publik. Tapi teman dekat, ya teman dalam pergaulannya,” katanya.
Sampai saat ini, pihak kepolisian masih menyelidiki sumber awal penyebaran video tersebut. Polisi juga tengah menelusuri apakah ada pelanggaran hukum yang berkaitan dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), khususnya terkait distribusi konten asusila di ranah digital.
Kasus ini menyorot pentingnya kesadaran digital dan batas etika dalam menyimpan maupun membagikan konten pribadi. Terlebih, dalam beberapa tahun terakhir, penyebaran video asusila tanpa izin telah menjerat banyak individu dalam masalah hukum serius dan mencoreng reputasi.
Polisi mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarluaskan konten video yang melanggar kesusilaan, dan segera melapor jika mengetahui peredaran konten serupa. “Kami akan menindak tegas siapa pun yang dengan sengaja menyebarkan konten pribadi seseorang tanpa izin. Ini melanggar hukum dan dapat dipidana,” tegas Hendra.
Penyelidikan terhadap kasus Lisa Mariana ini akan terus dilanjutkan hingga tuntas, termasuk kemungkinan melibatkan ahli forensik digital untuk melacak asal mula distribusi video yang kini telah menyebar luas di dunia maya. Pihak kepolisian menegaskan bahwa mereka berkomitmen memberikan perlindungan terhadap korban, sekaligus menindak tegas pelaku penyebaran konten pribadi.

































