Manyala.co – Langkah Israel melancarkan serangan udara ke ibu kota Qatar, Doha, pada Selasa, (9/09/2025), menjadi babak baru yang mengguncang dinamika geopolitik Timur Tengah. Serangan itu diklaim menargetkan pertemuan pimpinan politik Hamas, namun dampak yang ditimbulkan jauh lebih luas, mulai dari terganggunya proses negosiasi gencatan senjata hingga mempertanyakan kembali jaminan keamanan Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Qatar selama ini dikenal sebagai sekutu dekat Washington. Negara kecil yang kaya gas itu menjadi tuan rumah pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah serta menyandang status sekutu utama non-NATO. Perannya dalam evakuasi warga Amerika dari Afghanistan juga menegaskan posisinya di mata AS. Meski demikian, status tersebut tidak menghalangi Israel melakukan serangan, bahkan ketika Doha sedang berperan sebagai mediator utama dalam perundingan gencatan senjata yang juga didukung Amerika.
Dampak politik dan diplomatik langsung terasa. Serangan ini dianggap berisiko tinggi karena merusak proses perundingan, mengguncang stabilitas regional, serta menimbulkan keraguan besar terhadap konsistensi komitmen keamanan AS. Gedung Putih mengaku telah diberitahu oleh Israel sebelum serangan dilakukan, tetapi pihak Qatar menegaskan bahwa komunikasi baru datang setelah bom dijatuhkan di ibu kota mereka.
Kemarahan juga datang dari sesama negara Teluk. Uni Emirat Arab, melalui penasihat diplomatik Anwar Gargash, menegaskan bahwa keamanan kawasan Teluk tidak dapat dipisahkan. UEA pun menyatakan berdiri tegak bersama Qatar dan mengutuk langkah Israel yang dinilai licik. Respons ini menggambarkan bahwa meski hubungan Qatar dengan sebagian negara Teluk kerap penuh perselisihan, solidaritas muncul ketika kedaulatan kawasan dilanggar.
Sejumlah analis turut menyoroti konsekuensi jangka panjang. Menurut Sanam Vakil dari Chatham House, tindakan Israel tidak hanya menantang Doha, tetapi juga menjadi pesan bagi seluruh kawasan. Vakil menilai bahwa kini Israel bahkan lebih menimbulkan kecemasan dibanding Iran, yang sebelumnya dianggap ancaman utama. “Serangan ini bukan hanya terhadap Hamas, tetapi juga sinyal bagi kawasan bahwa Israel merasa bebas bertindak,” ujarnya.
Dari sisi geopolitik, serangan ke Doha dipandang mempercepat tren negara-negara Teluk untuk mencari keseimbangan baru dengan menggandeng Tiongkok dan Rusia, sebagaimana disampaikan Will Todman dari CSIS. Ketergantungan pada kehadiran militer AS kini dinilai semakin rapuh.
Dampak lain muncul pada masa depan perjanjian Abraham Accords. Kesepakatan yang pada 2020 membuka hubungan diplomatik Israel dengan UEA dan Bahrain, serta sempat digadang-gadang akan diikuti Arab Saudi, kini praktis goyah. Analis Bloomberg Economics, Dina Esfandiary, menegaskan bahwa normalisasi sudah tidak realistis. Menurutnya, sulit membayangkan negara-negara Teluk akan menjalin hubungan resmi dengan Israel setelah serangan terhadap salah satu saudara mereka.
Serangan tersebut juga membuat negosiasi gencatan senjata kehilangan legitimasi. Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, menyatakan proses perundingan tidak lagi layak dilanjutkan. Padahal Doha sebelumnya menjadi lokasi utama pembahasan pembebasan puluhan sandera Israel di Gaza.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap bersikeras melanjutkan perang. Di bawah tekanan dari koalisi sayap kanan, Netanyahu bahkan menyiapkan ofensif darat baru ke Gaza, meski langkah tersebut berisiko memperparah krisis kemanusiaan dan mengancam keselamatan sandera yang masih ditahan Hamas.
Keputusan Israel menyerang Doha pun dianggap membuka babak baru ketidakpastian. Dari ancaman terhadap stabilitas regional, runtuhnya perundingan damai, hingga pergeseran keseimbangan geopolitik global, dampak serangan ini menjadi sinyal kuat bahwa dinamika Timur Tengah memasuki fase yang lebih rapuh dan penuh ketegangan.

































