Manyala.co – Amerika Serikat dan Taiwan mencapai kesepakatan perdagangan strategis yang menempatkan industri semikonduktor sebagai inti kerja sama bilateral. Kesepakatan tersebut diumumkan Departemen Perdagangan AS pada Sabtu (17/1/2026).
Dalam perjanjian itu, perusahaan chip dan teknologi asal Taiwan berkomitmen menginvestasikan sedikitnya USD 250 miliar, atau sekitar Rp 4.220 triliun, untuk membangun dan memperluas kapasitas produksi semikonduktor di wilayah Amerika Serikat. Selain itu, pemerintah Taiwan akan menjamin fasilitas kredit hingga USD 250 miliar guna mendukung ekspansi perusahaan semikonduktor nasionalnya di pasar AS.
Langkah tersebut mencerminkan dorongan Washington agar sebagian besar rantai pasok semikonduktor global dipindahkan ke dalam negeri. Pemerintah AS menilai sektor chip sebagai industri strategis yang berkaitan langsung dengan keamanan nasional dan ketahanan ekonomi.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Amerika Serikat menyetujui penurunan tarif “timbal balik” atas produk asal Taiwan menjadi 15 persen dari sebelumnya 20 persen. AS juga berkomitmen untuk tidak memberlakukan tarif timbal balik terhadap sejumlah sektor strategis, termasuk obat-obatan generik, bahan baku farmasi, komponen pesawat terbang, serta beberapa sumber daya alam.
Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan kesepakatan ini memberikan kepastian bagi industri teknologi yang selama setahun terakhir menghadapi ketidakpastian kebijakan tarif. Ia mengungkapkan bahwa Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) telah membeli ratusan hektare lahan di Arizona sebagai bagian dari rencana ekspansi di Amerika Serikat.
“Mereka baru saja membeli ratusan hektar lahan yang berdekatan dengan properti mereka,” kata Lutnick. Ia menambahkan bahwa TSMC masih akan melanjutkan proses internal bersama dewan direksi sebelum mengumumkan rincian investasi lanjutan. “Saya akan membiarkan mereka melanjutkan prosesnya dengan dewan pengurus dan memberi mereka waktu,” ujarnya.
Dalam kesepakatan tersebut, AS juga menawarkan insentif tarif bagi perusahaan Taiwan yang membangun fasilitas produksi di dalam negeri. Selama masa konstruksi pabrik, perusahaan diperbolehkan mengimpor produk hingga 2,5 kali kapasitas produksi tanpa dikenakan tarif tambahan berdasarkan Pasal 232. Setelah pabrik beroperasi penuh, batas impor tersebut ditetapkan menjadi 1,5 kali kapasitas produksi di AS.
Selain itu, produk tertentu dari Taiwan, seperti suku cadang otomotif, kayu, dan produk turunannya, dipastikan tidak akan dikenai tarif di atas 15 persen. Namun, Lutnick menegaskan perusahaan chip Taiwan yang tidak membangun fasilitas produksi di AS berpotensi menghadapi tarif hingga 100 persen.
“Jika mereka tidak membangun di Amerika Serikat, tarifnya kemungkinan besar akan mencapai 100 persen,” kata Lutnick. Pemerintah AS menargetkan sekitar 40 persen rantai pasok semikonduktor Taiwan dapat dialihkan ke wilayah Amerika.
Saat ini, TSMC telah menginvestasikan sekitar USD 40 miliar untuk membangun fasilitas produksi chip di Arizona. Pabrik tersebut direncanakan memproduksi semikonduktor bagi perusahaan teknologi global seperti Apple dan Nvidia, dengan dukungan hibah dari Undang-Undang CHIPS.
Pemerintah AS menilai ketergantungan global pada produksi chip di Taiwan sebagai risiko strategis, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Asia Timur. Hingga Sabtu malam, belum ada pernyataan tambahan dari otoritas Taiwan mengenai jadwal rinci realisasi investasi baru tersebut.
































