Manyala.co – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dan ditutup menguat 4,16 persen pada perdagangan sesi I, Selasa (20/10/2026). Indeks naik 208,02 poin ke level 5.204,63 setelah sempat tertekan dalam perdagangan sebelumnya akibat kekhawatiran pasar terhadap pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 12.00 WIB, IHSG bergerak pada rentang 4.980,16 hingga 5.210,80. Indeks dibuka di level 4.980,16, yang sekaligus menjadi titik terendah sesi I, sebelum bergerak naik tajam. Setelah sempat terkoreksi menjelang pukul 10.00 WIB, IHSG kembali menguat mendekati pukul 11.00 WIB dan bertahan di zona hijau hingga penutupan sesi.
Data RTI Business mencatat sebanyak 633 saham menguat, 124 saham melemah, dan 41 saham stagnan. Sementara itu, data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip dalam laporan perdagangan lainnya mencatat 654 saham menguat, 137 saham melemah, dan 172 saham tidak bergerak.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat mencapai 40,79 miliar saham dengan nilai transaksi Rp17,19 triliun berdasarkan data RTI Business. Frekuensi perdagangan mencapai sekitar 1,65 juta kali transaksi, sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp9.176,762 triliun.
Penguatan IHSG ditopang sejumlah sektor utama. Sektor infrastruktur memimpin kenaikan sebesar 6,6 persen, disusul sektor keuangan yang menguat 5,1 persen dan konsumer nonkritikal sebesar 4,1 persen.
Sejumlah saham yang menjadi pengungkit indeks antara lain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), dan PT Astra International Tbk. (ASII).
Di sisi lain, beberapa saham menahan laju penguatan IHSG, yakni PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA), PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), PT Impack Pratama Industri Tbk. (IMPC), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP).
Investor Asing Catat Jual Bersih Rp1,72 Triliun
Di tengah penguatan indeks, investor asing masih membukukan jual bersih sebesar Rp1,72 triliun. Di pasar reguler, aksi jual bersih investor asing mencapai Rp2,28 triliun. Sementara itu, di pasar negosiasi dan tunai, investor asing mencatat beli bersih sebesar Rp558,4 miliar.
Berdasarkan data komposisi transaksi yang dilaporkan, investor domestik mendominasi volume perdagangan dengan porsi 69,92 persen atau sekitar 23,84 miliar saham. Adapun investor asing berkontribusi 30,08 persen atau sekitar 10,25 miliar saham.
Dari sisi nilai transaksi sebesar Rp25,2 triliun dalam data komposisi tersebut, investor domestik berkontribusi 64,11 persen dengan nilai pembelian Rp17 triliun. Sementara itu, investor asing menyumbang 35,89 persen dengan nilai pembelian Rp8,2 triliun.
Investor domestik juga mendominasi frekuensi perdagangan dengan porsi 74,77 persen. Investor asing berkontribusi 25,23 persen, dengan frekuensi pembelian sebanyak 325.971 kali dan penjualan sebanyak 492.259 kali.
Pasar Merespons Langkah BEI Terkait Pengumuman MSCI
Penguatan IHSG terjadi setelah indeks mengalami tekanan tajam pada perdagangan sebelumnya. Pada Jumat (16/10/2026), IHSG anjlok 11,57 persen. Indeks kemudian kembali melemah 3,64 persen ke level 4.996,61 pada Senin (19/10/2026).
Tekanan tersebut berkaitan dengan pengumuman MSCI yang membuka peluang penurunan status pasar saham Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market. MSCI menyoroti persoalan transparansi kepemilikan saham dan dugaan perdagangan terkoordinasi, serta meminta bukti penegakan aturan yang konsisten.
Merespons persoalan tersebut, BEI pada Senin (19/10/2026) mengumumkan dua inisiatif baru untuk memperkuat transparansi pasar modal.
Pertama, publikasi kepemilikan saham di atas 1 persen akan dilengkapi dengan informasi mengenai hubungan afiliasi pemegang saham dengan perusahaan. Kedua, seluruh saham yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) akan dikeluarkan dari perhitungan IHSG. Waktu pemberlakuan kebijakan tersebut akan diumumkan kemudian.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebutkan bahwa bobot saham yang masuk daftar HSC saat ini mencapai 18 persen dari IHSG. Meski tidak lagi diperhitungkan dalam indeks, saham-saham tersebut tidak akan dihapus dari bursa dan tetap dapat diperdagangkan.
Saham yang masuk daftar HSC juga berpeluang kembali diperhitungkan dalam IHSG setelah keluar dari daftar tersebut. BEI menegaskan tidak ada sanksi tambahan bagi emiten yang masuk kategori HSC.
Langkah tersebut melengkapi sejumlah agenda reformasi pasar modal yang telah dilakukan sebelumnya, termasuk pengungkapan kepemilikan saham di atas 1 persen, penyediaan data investor yang lebih terperinci, peningkatan ketentuan free float, serta penghapusan batas harga minimum saham Rp50.
Konsultasi MSCI terkait kemungkinan reklasifikasi pasar saham Indonesia dijadwalkan berlangsung hingga April 2027, dengan keputusan akhir paling lambat 30 Juni 2027.
Danantara Siap Tambah Kepemilikan Saham BUMN
Selain kebijakan BEI, pelaku pasar juga mencermati langkah pemerintah dan Danantara dalam merespons dinamika pasar modal, termasuk aksi pembelian kembali saham (buyback) oleh sejumlah emiten konglomerat.
Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyatakan Danantara siap menambah kepemilikan pada saham-saham BUMN yang memiliki fundamental kuat.
Usai dipanggil ke Istana, Dony menilai pelemahan IHSG sebagai dinamika pasar yang wajar. Ia juga menyebut rencana demutualisasi BEI sebagai bagian dari transformasi pasar modal Indonesia.
Pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan kebijakan BEI, langkah pemerintah dan Danantara, serta arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat penegakan aturan di pasar modal.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian investor di tengah upaya meningkatkan transparansi, memperkuat tata kelola, dan menjaga kepercayaan terhadap pasar saham Indonesia.
Sumber: CNBC

































